KAJIAN JENIS BAMBU UNTUK PENGOBATAN MALARIA BERDASARKAN AKTIVITAS FARMAKOLOGIS

Authors

  • Suharno Zen Universitas Muhammadiyah Metro
  • Agus Sujarwanta Universitas Muhammadiyah Metro

Keywords:

Aktifitas, bambu, malaria

Abstract

Penyakit malaria masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Beberapa wilayah di Indonesia dengan kasus malaria tertinggi terdapat di Indonesia BagianTimur. Demam merupakan salah satu gejala yang terjadi pada penderita malaria. Beberapa tanaman berkhasiat sebagai antipiretik/penurun demam. Salah satunya adalah bambu. Daun bamboo mengandung senyawa flavon. Flavonoid sebagai senyawa bahan alam yang dihasilkan tanaman memiliki berbagai macam bioaktivitas, diantaranya adalah efek antipiretik, analgetik dan antiinflamasi. Flavonoid bekerja sebagai inhibitor cyclooxygenase (COX). Cyclooxygenase (COX) akan menghambat pembentukan prostaglandin sehingga tidak terjadi demam. Review artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai tanaman bamboo sebagai pengobatan malaria berdasarkan aktifitas farmakologi. Artikel review disusun dengan menggunakan teknik studi literatur dalam bentuk data primer berupa jurnal nasional dan jurnal internasional dengan teori, pendukung dari situs resmi seperti WHO dan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Berbagai aspek bambu dikaji dengan pendekatan studi literatur yang dilakukan selama bulan Januari sampai Mei tahun 2022. Hasil kajian ini dibahas menggunakan metode deskriptif. Data yang diperoleh dari berbagai sumber melalui studi pustaka dari beberapa buku maupun artikel yang menunjang dan melakukan pengumpulan referensi-referensi lain dari beberapa website yang relevan. Hasil review diperoleh informasi bahwa ekstrak daun bambu kuning(Bambusa vulgaris var. Striata)Lodd. ex Lindl, bambu tali(Gigantochloa apus), bambu betung (Dendrocalamus asper)Backer ex K.Heyne, bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea) dan bambu duri (Bambusa blumeana) Schult.f  memiliki potensi sebagai inhibitor aktifitas enzim PfMQO yang merupakan target obat potensial parasit P. falciparum. Bambu betung (Dendrocalamus asper) Backer ex K.Heyne memiliki metabolit sekunder baru, yaitu (11Z,13E,17E,19Z)-dimethyl-15,16-dibutoxytriconta-11,13,17,19-tetraenioat bersama senyawa metil-4hidroksibenzoat, 1-metoksi-4-(metoksimetil) benzena yang menunjukkan aktivitas antimalaria dengan angka IC50 antara 0,8-2,2 g/mL. Sedangkan pada bambu kuning (Bambusa vulgaris) memiliki aktifitas antiplasmodial dan hepatoprotektif yang berfungsi sebagai perlindungan dari kerusakan sel hati karena parasit malaria.

Downloads

Published

2022-08-10